Alpha T. - by Dyan Eka
Powered by Blogger.
  • Home
  • About
  • What’s On
    • EXO’luxion
    • Fiction
    • I am an Engineer
    • I was Here
    • Random Thought
    • Review
  • Hit Me
    • ASKfm
    • Facebook
    • Goodreads
    • Google+
    • Instagram


 

Waktu itu sekitar pertengah tahun 2017, aku sama beberapa temen kuliah lagi kumpul di salah satu kafe deket SMA komplek. Lalu dateng salah satu teman, dengan tergopoh-gopoh, menghampiri salah satu teman yang lain, meminta kunci kosan.
“Yampun ciii, abis dijemur kayak ikan apa gimana.”
“Darimana sih?”
“Anjir motoran PP kesana?”
Kita ngomentarin teman kita yang tergopoh-gopoh tadi ini. Kulit wajahnya menunjukkan ciri khas orang yang habis terkena paparan langsung matahari di pantai.
Begitu temanku ini pamit pulang duluan, aku berkomentar; “njir tekan pucuk ndunyo de’e” (njir dari ujung dunia dia)
Temanku yang lain ketawa.
Terus aku nambahin; “wes pucuk ndunyo, nyebrang pisan.” (udah di ujung dunia, nyebrang laut juga)
Wkwkwkwk.

Tanggal 31 Desember 2017 dini hari kemarin, aku udah kepikiran judul ini buat ngeblog. Waktu masih di atas kapal buat nyebrang ke pulau. “Gils, aku akhirnya juga pergi ke pucuk ndunyo.” batinku, wkwk.
Kenapa pucuk ndunyo? Simply, bcs it was soooooo faaarrrrrr and not easy to reach.
Kalau semisal aku berangkat seperti temanku waktu itu, motoran, mungkin akan banyak resiko yang terjadi. Apalagi banyak peringatan dari sana-sini kalau begitu banyak orang jahat di sepanjang jalan menuju yang namanya pucuk ndunyo ini. Bahkan peringatan pun datang dari warga lokal. That’s why, it was not easy to reach.


Kemarin waktu scrolling timeline twitter, ada satu temanku yang buat note yang berisi list drama apa aja yang udah dia tonton dari jaman nggak tahu kapan sampai sekarang. Dimulai dari tahun 2017 lalu semakin ke belakang. Aku waktu baca list dia, sempat kaget. Bukan, bukan karena banyaknya judul drama yang udah dia tonton, tapi kaget karena beberapa drama yang kayaknya baru aja aku ikutin on goingnya, ternyata drama itu oh-so-last-year.
“Beneran drama ini tahun kemarin?”
“Hah? yang ini 2 tahun yang lalu? Seriusan?”
Time really flies so fast.


“Eh di sini tuh lalapan yang enak dimana sih?”
“Kayaknya nggak ada deh.”
“Iyaaaaa, di sini mah nggak ada yang seenak malang ya lalapannya.”
“Di sini lalapannya juga nggak ada kubis gorengnya.”
“Padahal kubis goreng tuh endes banget ya ga sih.”

Manusia itu sukanya sedikit-sedikit nostalgia. Itu sih menurutku. Karena apa yang aku lakukan begitu kakiku menapak lagi di dataran kota Malang, pikiranku langsung melanglang buana ke waktu aku menghirup udara kota malang selama 4 tahun.
Waktu aku ke malang kemarin minggu, tanggal 8 oktober 2017, aku merasa seperti ‘tamu’, bukan orang yang pergi entah kemana lalu pulang ke rumahnya. Sedih. Karena aku udah selama itu nggak ke Malang.


Aku suka banget lihatin orang-orang yang lalu lalang di tempat umum. Kadang di atas motor, aku ngendarain motor sambil ngeliatin sekitar, ngeliatin orang-orang sibuk dengan aktivitasnya. Ngeliatin tempat makan di pinggir jalan, ngeliatin bapak-bapak narik becak, ngeliatin abang ojek online tanya arah jalan….
Kadang, kalau pas nggak pulang, terus nggak tahu mau ngapain, aku pergi sendirian. Kadang ke mall, kadang ke tempat-tempat lain selain mall. Jalan-jalan sendiri, atau duduk di salah satu sudut foodcourt, ngeliatin orang-orang sambil ngabisin makananku.
“Gosh, thanks God, you aren’t here.” kata salah satu orang waktu kita ngobrol.
“Why?”
“Hahahaha.” malah ketawa dia, aku mah nggak nyambung maksudnya apa. Tapi sedetik kemudian aku baru ngeh.
“Heh, I am not a psycho who looking for a prey.”
Dia malah ketawa lagi.

Iya mungkin agak serem sih ya, diem-diem ngeliatin orang-orang begitu. Tapi toh aku liatinnya diem-diem, nggak gangguin siapapun. Orang-orang itu juga nggak tahu. Tapi mungkin disini ya letak seremnya itu, orang-orang nggak tahu kalo ada orang lain yang diem-diem merhatiin.
Tapi bagiku, dari merhatiin, ngeliatin orang-orang itu, ada rasa tersendiri. Nggak tahu, yang penting aku suka sama aktivitas ini.
they didn't know that there's a young-adult girl
who sat alone here and had eyes on them

Kalau kamu mau, coba tanya dia, hal apa yang bisa membuatnya bergumam takjub?
Jawabnya pasti “langit sore hari.”
Langit sore hari yang memancarkan semburat orange, merah, biru.
Langit sore yang bercampur dengan kadar karbondioksida.
Langit sore yang menaungi langkah kaki manusia untuk pulang.
Langit sore yang begitu indah tapi tidak sombong.

Pernah nggak sih, kalian denger suatu lagu, tahu liriknya tapi nggak tahu itu yang nyanyi siapa? Hal ini sering aku alami semenjak aku kerja. For your information, kantorku bukan tipe kantor yang hening sunyi senyap hanya terdengar ketukan jari beradu dengan keyboard computer gitu, bukan. Kantorku full music. Bisa dihitung jari pokok berapa kali kantor terasa sunyi lantaran music nggak di-play.
As for me, its lil bit annoying some times. Bukan aku nggak suka kerja sambil dengerin lagu sih, kadang lagu bisa ningkatin mood, tapiiiii…….tapi aku lebih setuju kalo ngeplay lagu di kantor nggak pake stereo. Theres something in this world called headset, headphone, oke you name it guys. You can listening your music without disturbing others, right?
“Ya mbak, kamu jangan bacot, baru juga di kantor setahun udah ngatur-ngatur.”
Yeah, who am I right? Ppffff…… a year that felt like a damn thousand years.

Gara-gara kebiasaan ini, jadinya telingaku ikut dengerin segala macam lagu. Mulai lagu pop Indonesia yang aku tahu, sampek lagu dangdut yang bvhjbshjvjfdnvjkfdnvjk not gonna be a judgemental bij, tapi suara ciwi yang nyanyi….kayak yang hmmm gimana ya…yang diatas panggung gituloh, tahu kan, its really annoy me a lot what the fck. I am okay with dangdut, but not with this girl shouting like she own this whole world.
“Pancene kowe pabuuu nuruti ibumuuuu jare lek ga ninjaaa ra oleh dicintaaa~~.” Sepenggal lirik yang sering banget aku denger, lambat laun aku hapal liriknya, anjir.
“Sayang~ opo kowe krungu jerite atikuuu berharap engkau kembaliii~~” lirik lagu yang lain. Gila sih kadang aku terngiang-ngiang lagunya -___-

Gara-gara begini ya, jadinya kadang aku ngetwit liriknya begitu kalo semisal lihat pic baekhyun di twitter dangdut banget wkwkwkwk. “Wah anjir dangdut banget baek.” lalu aku ngecaption picnya pake lirik dua lagu diatas lol.

Tapi sepertinya karma memang berlaku ya.
Eh, bukan karma sih, lebih ke kayak omongan tuh mestinya kudu dijaga.

Penampilan baekhyun yang baru buat comeback ini bagiku dangdut banget fck!!
Pertama kali liat rambutnya di twitter tuh rasanya pengen lempar hp /nggak deng/. Wow, wtf wtf wtf wtf. No offense okay, but I really don’t like his concept style in this comeback. Scrolling timeline semua pada muji-muji baekhyun, tapi aku nggak :/
Lalu satu per satu teaser keluar. FIX DANGDUT ABIS from head to toe. Udahlah, tinggal nyanyi “pancene kowe pabuuu~~ nuruti ibumuuuu jare lek ra ninja ra oleh dicintaaa~~.”
Anjir.
TOLONG KEMBALIKAN BAEKHYUNKU YANG GEMAS!!
udah kayak siap banget berangkat ngadu ayam jago ><

Newer Posts Older Posts Home

The Alpha Post

[not a simple happiness] hazy dream

Instagram

Book I Have Read

I Want to Die But I Want to Eat Tteokpokki
A Feminist Manifesto: Kita Semua Harus menjadi Feminis
Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck
Perempuan: Kumpulan Cerita Pendek
Proyek Maut
Hai, Miiko! 32
Another II
Another I
Absolute Justice
Murder at Shijinso
Memory of Glass
The Travelling Cat Chronicles
Confessions
Buku Harian Pangeran Kegelapan
The Feminist Minds: Two Years of Collected Essays from Magdalene
Love Letters from a Father
Shandya's Sententia
Kim Jiyoung, Born 1982
#Dear Tomorrow: Notes to My Future Self


Dyan Eka's favorite books »

Popular Posts

  • [The Eastest Java] I Am a Pro This Time
  • [Pucuk Ndunyo - fin] All You Can See
  • Hold It Tight
  • Melancong ke Blitar
  • [not a simple happiness] willingness

Blog Archive

  • ▼  2020 (3)
    • ▼  November (1)
      • Found Me
    • ►  September (1)
    • ►  June (1)
  • ►  2018 (12)
    • ►  November (1)
    • ►  August (1)
    • ►  July (2)
    • ►  June (1)
    • ►  April (3)
    • ►  January (4)
  • ►  2017 (11)
    • ►  October (3)
    • ►  August (1)
    • ►  July (2)
    • ►  January (5)
  • ►  2016 (12)
    • ►  October (1)
    • ►  August (4)
    • ►  June (1)
    • ►  March (5)
    • ►  January (1)
  • ►  2015 (19)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (2)
    • ►  August (1)
    • ►  June (1)
    • ►  May (2)
    • ►  April (5)
    • ►  March (2)
    • ►  February (3)
  • ►  2014 (15)
    • ►  December (3)
    • ►  November (3)
    • ►  September (2)
    • ►  August (1)
    • ►  June (1)
    • ►  March (2)
    • ►  February (1)
    • ►  January (2)
  • ►  2013 (5)
    • ►  December (2)
    • ►  June (1)
    • ►  May (1)
    • ►  February (1)
  • ►  2012 (12)
    • ►  November (2)
    • ►  October (1)
    • ►  September (2)
    • ►  July (2)
    • ►  May (1)
    • ►  April (1)
    • ►  March (1)
    • ►  February (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2011 (2)
    • ►  December (2)

Lucky Number

Copyright © 2016 Alpha T. - by Dyan Eka. Created by OddThemes