Alpha T. - by Dyan Eka
Powered by Blogger.
  • Home
  • About
  • What’s On
    • EXO’luxion
    • Fiction
    • I am an Engineer
    • I was Here
    • Random Thought
    • Review
  • Hit Me
    • ASKfm
    • Facebook
    • Goodreads
    • Google+
    • Instagram


 

Kemarin sore sepulang dari rapat di Sidoarjo, aku dan dua rekan kerjaku ngobrolin soal liburan kantor. Banyak yang kami bahas, mulai destinasi, terus makanan khas di setiap tempat, sampai warga lokalnya di sana. Ngomongin soal liburan, atau tempat-tempat yang emang worth to visit, selalu membuat aku semangat. Ngomongin doang padahal, belom beneran pergi ke sana.
“Atau kalau nggak ya ke banyuwangi, mbak.” kata salah satu rekan setelah kami ngebahas destinasi di bagian timur Indonesia.
“Wah, mau deh pak saya kalau diajak ke banyuwangi lagi. Bagus loh.” sahutku. Jadilah kami ngobrolin apa aja yang ada di banyuwangi, lalu aku cerita soal aku ngetrip ke banyuwangi.

“Sampai banyuwangi kotanya, mbak?”
“Iya pak, kalau ke menjangan kan, ngelewatin kota kan, pak?”
“Iya. Loh, sudah sampai menjangan? Waahh hebat-hebaatt.”
Padahal Pulau Menjangan secara administrasi termasuk wilayah Pulau Bali. Tapi mungkin karena deket, jadilah setiap brosur trip banyuwangi yang aku lihat, selalu menyertakan pulau menjangan sebagai destinasi.

Inget banget waktu sebelum berangkat ngetrip, aku ngomong ke diah, “Eh, di, ntar kita ke menjangan loohh.”
“ngetripnya ke sana juga?”
“iyee, baliii…”
“lah? Menjangan masuk bali?”
“iyeeeee.”
“asiikk ke baliii.”
WKWKWKWKWKWK


Hampir sebulan setengah sejak postingan terakhir soal ngetrip ini ya, wkwkwk. Yeah, I won’t write about my excuses, because its too much lol. Anw sebelum berangkat ngetrip ini tuh, ibuku dan aku ngobrol gitu kan di dapur. Ibu masak, aku ngeliatin ibu masak. Lalu kami ngobrol;
“kemarin tuh, adek tanya ke ibu, ‘bu, waktu ibu hamil aku tuh, ibu di rumah aja?’”
“terus ibu jawab apa?”
“iya, ibu di rumah aja.”
Terus sama adek disahutin; “oh, pantes. Aku kayak males gitu kalo keluar rumah yang nggak penting-penting banget.”
“terus ibu pikir-pikir bener juga sih.”
“bener kenapa bu?”
“pas hamil kamu tuh, ibu sukanya jalan-jalan. Padahal udah hamil 7 bulan, tetep aja jalan-jalan. Eh, sekarang kamu sukanya kelayapan.”
“wkwkwkwkwk.”

Tapi obrolan itu tuh, make sense juga sih. Wow, jadi udah bawaan orok ya ini aku suka kelayapan. Tapi semoga kelayapan-kelayapanku ini selalu di jalan yang benar. Aamin.


Aku nggak pernah tahu kalo matahari terbit di daerah timur bisa seindah yang pagi itu aku lihat. Setelah semalaman tidur di mobil, pagi itu begitu aku bangun, yang aku lihat yaitu pemandangan di luar jendela mobil yang bikin aku mikir ini aku masih mimpi apa udah bangun.
Pas aku bangun, matahari masih baru banget muncul. Bias-bias cahanya menghiasi jejeran pohon kelapa yang berjejer rapi di luar, berdampingan dengan petak-petak sawah. Pemandangan pagi seperti itu jarang banget aku lihat, bahkan mungkin itu pertama kalinya. Seneng banget rasanya pagiku disambut begitu indah.
Aku sebenernya pengen ngefoto pemandangan yang berlalu dengan cepat itu, tapi nggak jadi. Satu, karena aku masih ngerasa kayak hazy dream, kedua kaca jendela mobil yang nggak banget, banyak baret di sana-sini.

Hal kedua yang aku sadari setelah aku bangun yaitu, kursi di sampingku yang semalem kosong, sekarang keisi orang. Seorang perempuan yang semalem sempet lupa jadwal ngetrip. Karena nyawaku yang masih belum kekumpul banyak, aku nggak nyapa dia, walopun sebenernya dia juga udah bangun.

Sepanjang pagi itu aku habiskan waktu sambil ngeliat hari yang mulai bangun di luar, sambil ngobrol sama diah. Ngobrolin dari hal yang nggak penting sampek penting banget. di tengah-tengah obrolan itulah aku baru sadar kalo kita sepucuk pun belum masuk wilayah banyuwangi. Kita masih di jember. Sumpah ini banyuwangi kerasa jauh banget.

and those memorable feelings were started here

Sebagai seseorang yang selalu berpikir panjang sebelum melakukan sesuatu, kadang kebiasaan itu bikin aku nggak fleksible, harus straight to the rule, soalnya kadang juga bukan cuma hal-hal penting yang aku bawa dengan pola pikir begitu, tapi juga hal sepele. Ketemuan sama temen, contohnya.

Yang udah lama plus deket sama aku, pasti tahu kalo aku diawal pertemuan pasti jadi orang yang diem. Terus, dengan default muka begini, orang udah nggak mau duluan kadang ngobrol sama aku. Padahal aku juga nunggu mereka say something. Ribet.
Dari hal-hal seperti itu, aku selalu berpikir berpuluh-puluh kali buat ketemuan sama seseorang yang diawal kenalnya lewat social media.
Dulu pernah hampir mau ketemuan sama (ehem) ex-crush for 4 years, ketemuan yang keliatan banget sebab-akibatnya diada-adain itu berakhir gagal. Satu, karena kayaknya emang bukan jodoh. Dua, aku juga nggak tahu harus bertingkah gimana kalo misalkan aku iyain. Well, bertahun-tahun cuma ngobrol lewat sms, terus kalo papasan di sekolah aku nggak berani nyapa karena muka udah duluan berubah kayak kepiting rebus, lalu mendadak disetting akan ngobrol face to face….ugh, nggak bisa bayangin kalo misal beneran terlaksana. Anw, apa kabar ya itu sekarang si kakak kelas, apakah sudah meniqa dengan ukhti solehah….? Wk

Bertahun-tahun berlalu, terus aku ngalamin ketemuan sama temen yang aku kenal lewat sosmed, untuk pertama kalinya. Yeah, temen nonton konser. Sounds normal, but for me it’s a big thing. Tapi gara-gara ketemu temen-temen nonton konser ini, aku belajar buat lebih luwes ketemu orang-orang. Soalnya ya memang kalo nurutin sikap ku yang terus-terusan begitu, aku akan susah menjaring koneksi pertemanan dimana-mana haha.


Postingan ini aku tulis di sela-sela waktu yang seharusnya aku gunain buat nulis paper tentang geolistrik.  Tapi memang dasar setan suka menghasut manusia, maka aku malah scrolling twitter dan menemukan sebuah pemikiran sebagian umat manusia.

Jauh sebelum aku membaca steller yang membahas topik ini, jauh sebelum aku ‘akhirnya’ tahu bahwa aku nggak sendiri dengan pemikiran ini, aku berpikir; “Gimana ya, nanti ketika aku punya anak, lalu aku nggak bisa merawat dia dengan baik? Memberikan segala kebutuhan dia dengan tepat? Mendidik dia sedemikian rupa hingga jadi anak baik? Siapa yang menjamin aku bakal jadi orang tua yang keren kelak?”
Biasanya aku mikirin hal ini pas di jalan, sambil motoran berangkat atau pulang kerja.

Ada beberapa yang pernah bilang ke aku, “Lah, ya makanya coba punya anak dulu, nanti pasti kamu ngerti, itu udah naluriah.”
Aku ingin misuh rasanya. Ya gimana elah belom nikah udah disuruh punya anak woy.
Hmm, baiklah…..naluriah?
Main internetnya kurang jauh apa gimana dah ya, udah banyak banget contoh kasus dimana anak kandung ditelantarkan orangtuanya sendiri.
Bisa jadi aku menjadi salah satu orang tua brengsek nantinya.



Kata ibu, aku tuh dari kecil kalo disuruh tidur gampang banget, tinggal diajakin “mbak, ayo tidur.” maka aku akan tidur. Dan itu kebawa sampek sekarang, sampek di umur yang udah bolak-balik disuruh buruan nikah, dibilang telat nikah, di-sok-sok-nasehati jangan kelamaan nunda nikah. Ya kale nikah segampang orang pergi tidur!

Maka, dengan kemampuanku untuk terlelap tidur luar biasa hebat, aku sama sekali nggak terganggu dengan suara mesin diesel yang dinyalain semalaman sampek pagi, padahal lokasi kamar penginapanku bersebelahan pas banget sama sebuah gubuk sederhana tempat mesin diesel dinyalain, cuma terpisah jarak 2 meter buat jalan. Eh, ini diesel kan? Yang buat nyalain listrik? Yang kalo diesel mati, listrikpun mati? Hmmm…..

Atau mungkin bukan karena kemampuanku untuk tertidur itu, melainkan rasa capek yang mendera setelah seharian full nggak ada diemnya?
“Yan, kamu semaleman nggak digigit nyamuk?” tanya leli
“nggak tuh.”
“nggak berisik diesel juga?”
“nggak”
Sungguh sangat amazing.
Newer Posts Older Posts Home

The Alpha Post

[not a simple happiness] hazy dream

Instagram

Book I Have Read

I Want to Die But I Want to Eat Tteokpokki
A Feminist Manifesto: Kita Semua Harus menjadi Feminis
Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck
Perempuan: Kumpulan Cerita Pendek
Proyek Maut
Hai, Miiko! 32
Another II
Another I
Absolute Justice
Murder at Shijinso
Memory of Glass
The Travelling Cat Chronicles
Confessions
Buku Harian Pangeran Kegelapan
The Feminist Minds: Two Years of Collected Essays from Magdalene
Love Letters from a Father
Shandya's Sententia
Kim Jiyoung, Born 1982
#Dear Tomorrow: Notes to My Future Self


Dyan Eka's favorite books »

Popular Posts

  • [The Eastest Java] Ocean in Raining Season
  • [The Eastest Java] Where We Met
  • [The Eastest Java] The Green Savana
  • 5N5D; diikuti dosbing
  • [The Eastest Java] Special Breakfast

Blog Archive

  • ▼  2020 (3)
    • ▼  November (1)
      • Found Me
    • ►  September (1)
    • ►  June (1)
  • ►  2018 (12)
    • ►  November (1)
    • ►  August (1)
    • ►  July (2)
    • ►  June (1)
    • ►  April (3)
    • ►  January (4)
  • ►  2017 (11)
    • ►  October (3)
    • ►  August (1)
    • ►  July (2)
    • ►  January (5)
  • ►  2016 (12)
    • ►  October (1)
    • ►  August (4)
    • ►  June (1)
    • ►  March (5)
    • ►  January (1)
  • ►  2015 (19)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (2)
    • ►  August (1)
    • ►  June (1)
    • ►  May (2)
    • ►  April (5)
    • ►  March (2)
    • ►  February (3)
  • ►  2014 (15)
    • ►  December (3)
    • ►  November (3)
    • ►  September (2)
    • ►  August (1)
    • ►  June (1)
    • ►  March (2)
    • ►  February (1)
    • ►  January (2)
  • ►  2013 (5)
    • ►  December (2)
    • ►  June (1)
    • ►  May (1)
    • ►  February (1)
  • ►  2012 (12)
    • ►  November (2)
    • ►  October (1)
    • ►  September (2)
    • ►  July (2)
    • ►  May (1)
    • ►  April (1)
    • ►  March (1)
    • ►  February (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2011 (2)
    • ►  December (2)

Lucky Number

Copyright © 2016 Alpha T. - by Dyan Eka. Created by OddThemes