Alpha T. - by Dyan Eka
Powered by Blogger.
  • Home
  • About
  • What’s On
    • EXO’luxion
    • Fiction
    • I am an Engineer
    • I was Here
    • Random Thought
    • Review
  • Hit Me
    • ASKfm
    • Facebook
    • Goodreads
    • Google+
    • Instagram

and those memorable feelings were started here

Sebagai seseorang yang selalu berpikir panjang sebelum melakukan sesuatu, kadang kebiasaan itu bikin aku nggak fleksible, harus straight to the rule, soalnya kadang juga bukan cuma hal-hal penting yang aku bawa dengan pola pikir begitu, tapi juga hal sepele. Ketemuan sama temen, contohnya.

Yang udah lama plus deket sama aku, pasti tahu kalo aku diawal pertemuan pasti jadi orang yang diem. Terus, dengan default muka begini, orang udah nggak mau duluan kadang ngobrol sama aku. Padahal aku juga nunggu mereka say something. Ribet.
Dari hal-hal seperti itu, aku selalu berpikir berpuluh-puluh kali buat ketemuan sama seseorang yang diawal kenalnya lewat social media.
Dulu pernah hampir mau ketemuan sama (ehem) ex-crush for 4 years, ketemuan yang keliatan banget sebab-akibatnya diada-adain itu berakhir gagal. Satu, karena kayaknya emang bukan jodoh. Dua, aku juga nggak tahu harus bertingkah gimana kalo misalkan aku iyain. Well, bertahun-tahun cuma ngobrol lewat sms, terus kalo papasan di sekolah aku nggak berani nyapa karena muka udah duluan berubah kayak kepiting rebus, lalu mendadak disetting akan ngobrol face to face….ugh, nggak bisa bayangin kalo misal beneran terlaksana. Anw, apa kabar ya itu sekarang si kakak kelas, apakah sudah meniqa dengan ukhti solehah….? Wk

Bertahun-tahun berlalu, terus aku ngalamin ketemuan sama temen yang aku kenal lewat sosmed, untuk pertama kalinya. Yeah, temen nonton konser. Sounds normal, but for me it’s a big thing. Tapi gara-gara ketemu temen-temen nonton konser ini, aku belajar buat lebih luwes ketemu orang-orang. Soalnya ya memang kalo nurutin sikap ku yang terus-terusan begitu, aku akan susah menjaring koneksi pertemanan dimana-mana haha.


Postingan ini aku tulis di sela-sela waktu yang seharusnya aku gunain buat nulis paper tentang geolistrik.  Tapi memang dasar setan suka menghasut manusia, maka aku malah scrolling twitter dan menemukan sebuah pemikiran sebagian umat manusia.

Jauh sebelum aku membaca steller yang membahas topik ini, jauh sebelum aku ‘akhirnya’ tahu bahwa aku nggak sendiri dengan pemikiran ini, aku berpikir; “Gimana ya, nanti ketika aku punya anak, lalu aku nggak bisa merawat dia dengan baik? Memberikan segala kebutuhan dia dengan tepat? Mendidik dia sedemikian rupa hingga jadi anak baik? Siapa yang menjamin aku bakal jadi orang tua yang keren kelak?”
Biasanya aku mikirin hal ini pas di jalan, sambil motoran berangkat atau pulang kerja.

Ada beberapa yang pernah bilang ke aku, “Lah, ya makanya coba punya anak dulu, nanti pasti kamu ngerti, itu udah naluriah.”
Aku ingin misuh rasanya. Ya gimana elah belom nikah udah disuruh punya anak woy.
Hmm, baiklah…..naluriah?
Main internetnya kurang jauh apa gimana dah ya, udah banyak banget contoh kasus dimana anak kandung ditelantarkan orangtuanya sendiri.
Bisa jadi aku menjadi salah satu orang tua brengsek nantinya.



Kata ibu, aku tuh dari kecil kalo disuruh tidur gampang banget, tinggal diajakin “mbak, ayo tidur.” maka aku akan tidur. Dan itu kebawa sampek sekarang, sampek di umur yang udah bolak-balik disuruh buruan nikah, dibilang telat nikah, di-sok-sok-nasehati jangan kelamaan nunda nikah. Ya kale nikah segampang orang pergi tidur!

Maka, dengan kemampuanku untuk terlelap tidur luar biasa hebat, aku sama sekali nggak terganggu dengan suara mesin diesel yang dinyalain semalaman sampek pagi, padahal lokasi kamar penginapanku bersebelahan pas banget sama sebuah gubuk sederhana tempat mesin diesel dinyalain, cuma terpisah jarak 2 meter buat jalan. Eh, ini diesel kan? Yang buat nyalain listrik? Yang kalo diesel mati, listrikpun mati? Hmmm…..

Atau mungkin bukan karena kemampuanku untuk tertidur itu, melainkan rasa capek yang mendera setelah seharian full nggak ada diemnya?
“Yan, kamu semaleman nggak digigit nyamuk?” tanya leli
“nggak tuh.”
“nggak berisik diesel juga?”
“nggak”
Sungguh sangat amazing.



Kata orang, hidup itu ngikutin arus aja, kayak air. Terima kemanapun arus itu bakal ngebawa bulir-bulir air. Terima kemanapun hidup bakal bawa kita.
Fyi aku nggak setuju dengan ‘kata orang’ ini. Kalau aku hidup cuma pasrah sama arus, tanpa melakukan apapun, aku 100% bakal masuk kategori orang bego. Siapa yang ngejamin nantinya aku bakal bermuara ke laut lepas yang indah? Bisa jadi karena aku cuma pasrah ngikutin arus aja, aku malah nyangkut di gorong-gorong.
As a human, I have to do everything with my best in this life.



Setiap tahun kantor biasanya kasih jatah cuti 5 hari di awal bulan januari. Tahun kemarin seisi kantor serempak libur hampir seminggu, tapi tahun ini nggak soalnya banyak proyekan yang bakal di lelang fisik.
“Mbak, kamu dapet shift libur sampek tanggal 7, tanggal 8 masuk.”
Aku sih seneng-seneng aja.
Awalnya.
Tapi nyatanya, tanggal 5 aku udah disuruh masuk madafakachjdsfjdskf.
“Mbak, jumat kita rapat ya ke pemkot.”
“Pak, saya ini masih off duty.”
“Ayolah mbak. Ini diminta full team, please.”
Akhirnya dengan ngedumel aku ikutan rapat di pemkot.
“Lagian mbak, libur lama-lama tuh nggak enak.” kata salah satu mas-mas kantor. “Liburan lama loh ya mau ngapain. Paling tidur.”
Aku diem aja. Ya itu sih, buat orang-orang yang nggak bisa membuat waktu liburan menjadi seru.
Kalau buat aku, orang yang pas sibuk-sibuknya aja sempet-sempetin nyelip kayak belut buat liburan, apalagi dikasih libur 5 hari, begitu banyak planning yang udah kesusun. Dan yang jelas nggak bakal bosen sampek mikir liburnya kelamaan.

Temen kerjaku itu pasti belum pernah ngerasain lamanya naik kapal buat nyeberang pulau kecil, dan belum sempat kapal menyentuh pasir pantai, pemandangan sekitar udah bikin speechless.
Hampir dua jam di atas kapal rasanya nggak ada apa-apanya setelah aku melihat beningnya air laut, sampek aku bisa lihat terumbu karang di dalamnya. Lautan itu emang sebuah misteri ya, sejengkal sebelumnya warna laut begitu biru, biru pekat, menandakan betapa dalamnya laut. Tapi sejengkal kemudian gradasi warna biru berubah. Itu menurutku so awesome!


 

Waktu itu sekitar pertengah tahun 2017, aku sama beberapa temen kuliah lagi kumpul di salah satu kafe deket SMA komplek. Lalu dateng salah satu teman, dengan tergopoh-gopoh, menghampiri salah satu teman yang lain, meminta kunci kosan.
“Yampun ciii, abis dijemur kayak ikan apa gimana.”
“Darimana sih?”
“Anjir motoran PP kesana?”
Kita ngomentarin teman kita yang tergopoh-gopoh tadi ini. Kulit wajahnya menunjukkan ciri khas orang yang habis terkena paparan langsung matahari di pantai.
Begitu temanku ini pamit pulang duluan, aku berkomentar; “njir tekan pucuk ndunyo de’e” (njir dari ujung dunia dia)
Temanku yang lain ketawa.
Terus aku nambahin; “wes pucuk ndunyo, nyebrang pisan.” (udah di ujung dunia, nyebrang laut juga)
Wkwkwkwk.

Tanggal 31 Desember 2017 dini hari kemarin, aku udah kepikiran judul ini buat ngeblog. Waktu masih di atas kapal buat nyebrang ke pulau. “Gils, aku akhirnya juga pergi ke pucuk ndunyo.” batinku, wkwk.
Kenapa pucuk ndunyo? Simply, bcs it was soooooo faaarrrrrr and not easy to reach.
Kalau semisal aku berangkat seperti temanku waktu itu, motoran, mungkin akan banyak resiko yang terjadi. Apalagi banyak peringatan dari sana-sini kalau begitu banyak orang jahat di sepanjang jalan menuju yang namanya pucuk ndunyo ini. Bahkan peringatan pun datang dari warga lokal. That’s why, it was not easy to reach.
Newer Posts Older Posts Home

The Alpha Post

[not a simple happiness] hazy dream

Instagram

Book I Have Read

I Want to Die But I Want to Eat Tteokpokki
A Feminist Manifesto: Kita Semua Harus menjadi Feminis
Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck
Perempuan: Kumpulan Cerita Pendek
Proyek Maut
Hai, Miiko! 32
Another II
Another I
Absolute Justice
Murder at Shijinso
Memory of Glass
The Travelling Cat Chronicles
Confessions
Buku Harian Pangeran Kegelapan
The Feminist Minds: Two Years of Collected Essays from Magdalene
Love Letters from a Father
Shandya's Sententia
Kim Jiyoung, Born 1982
#Dear Tomorrow: Notes to My Future Self


Dyan Eka's favorite books »

Popular Posts

  • [The Eastest Java] Ocean in Raining Season
  • 5N5D; diikuti dosbing
  • [The Eastest Java] Where We Met
  • sisa-sisa mektan
  • [The Eastest Java - fin] Push The Limit

Blog Archive

  • ▼  2020 (3)
    • ▼  November (1)
      • Found Me
    • ►  September (1)
    • ►  June (1)
  • ►  2018 (12)
    • ►  November (1)
    • ►  August (1)
    • ►  July (2)
    • ►  June (1)
    • ►  April (3)
    • ►  January (4)
  • ►  2017 (11)
    • ►  October (3)
    • ►  August (1)
    • ►  July (2)
    • ►  January (5)
  • ►  2016 (12)
    • ►  October (1)
    • ►  August (4)
    • ►  June (1)
    • ►  March (5)
    • ►  January (1)
  • ►  2015 (19)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (2)
    • ►  August (1)
    • ►  June (1)
    • ►  May (2)
    • ►  April (5)
    • ►  March (2)
    • ►  February (3)
  • ►  2014 (15)
    • ►  December (3)
    • ►  November (3)
    • ►  September (2)
    • ►  August (1)
    • ►  June (1)
    • ►  March (2)
    • ►  February (1)
    • ►  January (2)
  • ►  2013 (5)
    • ►  December (2)
    • ►  June (1)
    • ►  May (1)
    • ►  February (1)
  • ►  2012 (12)
    • ►  November (2)
    • ►  October (1)
    • ►  September (2)
    • ►  July (2)
    • ►  May (1)
    • ►  April (1)
    • ►  March (1)
    • ►  February (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2011 (2)
    • ►  December (2)

Lucky Number

Copyright © 2016 Alpha T. - by Dyan Eka. Created by OddThemes