Alpha T. - by Dyan Eka
Powered by Blogger.
  • Home
  • About
  • What’s On
    • EXO’luxion
    • Fiction
    • I am an Engineer
    • I was Here
    • Random Thought
    • Review
  • Hit Me
    • ASKfm
    • Facebook
    • Goodreads
    • Google+
    • Instagram

"Yan, kamu mulai suka korea-koreaan kapan? SMA?” tanya lintang di suatu siang yang terik, di dalam kamar kosan dan di hadapan kita ada laptop yang nampilin jendela autocad-excel.
“Nggak, pas kuliah.” jawabku setengah serius, masih asik bingung kenapa hitungan sama gambar nggak sinkron.
“Ketularan siapa?”
“Mbak ecik.”
Dan untuk selanjutnya semua fokusku beralih.

Anyway, mbak ecik ini temen seangkatan yang udah master banget perihal dunia fangirling ini. Misal level fangirling ini diibaratkan mie setan, pengetahuan dia udah level 5 aku masih level 1. Dulu awal kuliah aku cuma suka dengerin mbak ecik cerita-cerita soal biasnya. Suju. Kyuhyun. Dan entahlah siapa lagi.
Drama pertama yang beneran aku tonton juga dari mbak ecik, to the beautiful you. Dan sampai aku nonton gumiho, akhirnya hatiku berlabuh pada uri oppa #eak.

Dulu waktu SMA kelas 2 emang udah booming korea-koreaan, tapi aku masih nggak ngeh. Dulu aku terlalu fokus sama anak-SMA-yang-suka-lewat-samping-kelas-buat-ke-musholla daripada ke oppa-yang-suka-ngedance-sama-ngerap.
Dulu kalo ditanya “duh mik, nggak ada tah yang lebih oke daripada dia?” dengan tegas aku jawab “nggak ada.”
Gembel, jelas-jelas ini sekarang para oppa jauh lebih-lebihnya. Kecuali buat perihal pergi ke mushollanya, yaudah itu dibahas ntar aja kalo image kim jongdae beneran jadi kayak yang di teaser patchcode, wakakakak.

Waktu SMA, bangku kelasku bentuknya heksagonal, udah kayak lambangnya exo gitulah, jadi sebangku itu isi 6 orang. Hmmm, jadi kayaknya dari dulu udah ada pertanda kalo aku bakal jadi fangirlnya exo, hmm.
Dulu seneng gitu kan sebangku heksagonal itu aku duduk sama para bestfriend yang emang ditakdirkan sekelas lagi. Tapi ternyata pas udah kuliah ini ada satu temen yang kayak udah agak jadi asing buatku. Ini jadinya dia kayak lawsuit gitu dari pertemanan ini. Ppfftt, keramat banget lah ini bidang heksagonal. 
“Beneran skripsi ini nganterin kita kemana-mana ya, yan. Nganterin kita ketemu banyak orang.” kata Lintang yang duduk diboncengan.
“Dan untungnya orang yang kita temui baik-baik semua.” sahutku, sambil tetep fokus ke jalan yang nggak enak banget buat dilewatin sepeda motor.

Ini udah bulan maret, dan aku udah melewati deadline kedua yang aku tetapkan. Sedih? lebih ke nyesek sebenernya. Kayaknya segala yang aku rencanain, aku susun di kepala, semua nggak sesuai. Ada aja yang bikin melenceng. Kadang rasanya pengen banget nyerah, tapi kayaknya cuma seorang idiot yang nyerah disaat udah tinggal “sedikit” lagi gini.
Waktu itu pas pulang, tetiba ibuk bilang gini: “Mbak, ibuk kalo ngelihat kamu sekarang kayak udah dewasa ya.”
Aku yang udah siap-siap mau gegoleran di lantai sambil maen hp cuma mengernyit bingung. Hah? Ini ibuk nggak salah ngomong, kan? Atau aku lagi disuruh melakukan sesuatu dengan cara halus?
Aku? Dewasa? Hahahaha.
Dan untuk selanjutnya aku udah nggak tahu apa yang diomongin ibuk. Karena ayah udah ikut nimbrung dan aku udah asik sama hp.

Sejujurnya aku nggak tahu parameter orang udah bisa disebut dewasa itu seperti apa. Apakah dia berlaku seperti orang dewasa pada umumnya? Cara berpikirnya semakin terbuka? Membahas masalah-masalah negara? Dolar yang menembus Rp. 13.200,00? Yang berakibat naiknya harga beberapa peralatan elektronik, termasuk hard disk. Anjir, belum juga sempet beli hard disk, udah naik aja. Tahu sendiri ini kebutuhan hard disk semakin mendesak seiring bertambahnya bias yang comeback dan makin banyak syuting variety show.
Atau nontonin film macem fifthy shades of grey, yang dari judul kayaknya lebih cocok jadi film thriller dimana si pemeran utama punya 50 kepribadian, salah satunya kepribadian seorang pembunuh. Btw, aku nggak paham sama makna cerita film ini. Mau nggak dilanjut nonton udah nanggung banget, dilanjut tapi ngantuk banget, 2 jam yang serba salah. Jadi heran sama mbak kos yang semangat banget promosiin film ini sambil ngomong: "Aku mau diiket-iket kalo sama mr. grey." -______-
Atau bisa langsung tahu kalau gambar aliran air hasil runningan HEC RAS salah? Karena bisa aja pengaturan elevasi pintu air sluice gate yang salah. Duh, jadi keinget pintu yang kampretable banget ini T.T

Di sebelah Edward, si boneka tua mendesah. Ia tampak duduk lebih tegak. Lucius datang dan mengambilnya dari rak, lalu menyerahkannya pada Natalie. Dan ketika mereka pergi, ketika ayah si gadis membukakan pintu untuk anak perempuannya dan si boneka tua, seberkas cahaya matahari pagi yang terang membanjir masuk, dan Edward mendengar cukup jelas, seolah boneka itu masih duduk di sampingnya, suara si boneka tua itu.

“Buka hatimu,” katanya lembut. “Akan ada yang datang. Akan ada yang datang menjemputmu. Tapi kau harus membuka hatimu dulu.”

Pintu menutup. Sinar matahari lenyap.
Akan ada yang datang.
Hati Edward berdesir lagi. Ia memikirkan, untuk pertama kali setelah sangat lama, rumah Egypt Street dan Abilene yang memutar jamnya lalu membungkuk di depannya dan meletakkannya di kaki kiri Edward, sambil berkata: Aku akan pulang padamu.

Tidak, tidak, ia berkata pada dirinya sendiri. Jangan percaya. Jangan biarkan dirimu mempercayainya.
Tapi sudah terlambat.
Akan ada yang datang menjemputmu.
Hati kelinci porselen itu pun mulai terbuka lagi.
***
“Edward?” panggil Abilene.
Ya, kata Edward.
“Edward,” ia berkata lagi, kali ini dengan yakin.
Ya, sahut Edward, ya, ya, ya.
Ini aku.

Dahulu kala ada kelinci yang menari di taman pada musim semi bersama putri si perempuan yang menyayanginya di awal perjalanannya.
Dahulu kala, di masa lalu yang luar biasa, ada kelinci yang menemukan jalan pulang.



-The Miraculous Journey of Edward Tulane,
Kate Di Camillo-
“Makasih ya bang, karyanya udah jadi penyegar di tengah hecticnya tugas akhir.”

Thu, 3 February 2015

Ini entah kenapa aku cukup bersemangat banget perihal event booksigningnya raditya dika. Awalnya aku nggak tahu, dan mungkin nggak bakal tahu, kalau aja temenku nggak bilang soal ini. Dan saat itu juga aku memutuskan buat beli bukunya sehari sebelum hari ini. Ini bukunya raditya dika yang pertama kali aku beli, dulu-dulunya cuma minjem. Haha!
Siang hari di hari sebelumnya aku beli buku ini. Sorenya aku sampul biar tetep bagus. Malemnya aku baca sampek capek ketawa sekaligus baper dikit. Paginya aku buat alas mouse. Bukumu berfaedah sekali, Bang ( ‘ ‘)/

Pukul 03.15 pm, aku sama lintang berangkat ke gramed matos, setelah sejak pagi pusing mikirin tinggi muka air di hilir yang lebih tinggi daripada di hulu. Tapi untungnya masalah itu udah terselesaikan, jadinya aku makin semangat aja berangkat.

Parkiran samping matos full, firasatku udah bilang ini pasti bakal rame. Firasat yang nggak perlu sebenernya. Dan emang bener, antrian udah mengular nggak karu-karuan. Meliuk-liuk kayak fishway tipe bypass channel. Aku sama lintang langsung masuk antrian. Jam udah nunjukin pukul 03.29 pm. Dengan antrian sepanjang ini, dan waktu booksigning cuma dibatesi sampek pukul 05.00 pm, dan aku masih berdiri di pintu utama matos.

pertama kali ikutan booksigning kayak gini

“Kenapa kita harus membuat cerita seperti itu?”
“Kau bodoh atau apa? Itu hal dasar yang dilakukan di film-film, dan terlihat keren,” ucapku seraya membuka gambar peta dunia di laptop. “Kemana kita sebaiknya, hm?”
Temanku mengetuk-ketukan telunjuknya pada tempat pilihannya, memandangku meminta persetujuan.
“Oke.” Aku juga ingin kesana.

Itu obrolan kami beberapa waktu silam, disela-sela transaksi yang kami lakukan di sebuah café. Dengan laptop menyala dan segelas jus strawberry yang tinggal sedikit. Waktu itu aku seperti menemukan oase di padang pasir, setidaknya aku tidak sendirian dengan pemikiran yang mampu membuat orang mengernyitkan dahi atau lebih buruk dari itu- membuat orang tuaku segera mengatakan tidak.

Rasanya aku yakin untuk melakukannya, walaupun jantungku langsung berdentum lebih cepat saat memikirkannya. Haruskah aku benar-benar melakukan obrolan selingan kami? Tapi tidak ada cara lain yang lebih meyakinkan. Ini pertama kalinya aku akan membangkang, dan juga mungkin yang terakhir. Aku menggosok-gosok telapak tanganku, mengusir rasa dingin yang disebabkan pendingin ruangan. Juga untuk meredam perasaan resah yang mengusik. Aku yakin. Aku akan melakukannya. Sekali lagi aku yakin!
Newer Posts Older Posts Home

The Alpha Post

[not a simple happiness] hazy dream

Instagram

Book I Have Read

I Want to Die But I Want to Eat Tteokpokki
A Feminist Manifesto: Kita Semua Harus menjadi Feminis
Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck
Perempuan: Kumpulan Cerita Pendek
Proyek Maut
Hai, Miiko! 32
Another II
Another I
Absolute Justice
Murder at Shijinso
Memory of Glass
The Travelling Cat Chronicles
Confessions
Buku Harian Pangeran Kegelapan
The Feminist Minds: Two Years of Collected Essays from Magdalene
Love Letters from a Father
Shandya's Sententia
Kim Jiyoung, Born 1982
#Dear Tomorrow: Notes to My Future Self


Dyan Eka's favorite books »

Popular Posts

  • [The Eastest Java] I Am a Pro This Time
  • [Pucuk Ndunyo - fin] All You Can See
  • Hold It Tight
  • Melancong ke Blitar
  • [not a simple happiness] willingness

Blog Archive

  • ▼  2020 (3)
    • ▼  November (1)
      • Found Me
    • ►  September (1)
    • ►  June (1)
  • ►  2018 (12)
    • ►  November (1)
    • ►  August (1)
    • ►  July (2)
    • ►  June (1)
    • ►  April (3)
    • ►  January (4)
  • ►  2017 (11)
    • ►  October (3)
    • ►  August (1)
    • ►  July (2)
    • ►  January (5)
  • ►  2016 (12)
    • ►  October (1)
    • ►  August (4)
    • ►  June (1)
    • ►  March (5)
    • ►  January (1)
  • ►  2015 (19)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (2)
    • ►  August (1)
    • ►  June (1)
    • ►  May (2)
    • ►  April (5)
    • ►  March (2)
    • ►  February (3)
  • ►  2014 (15)
    • ►  December (3)
    • ►  November (3)
    • ►  September (2)
    • ►  August (1)
    • ►  June (1)
    • ►  March (2)
    • ►  February (1)
    • ►  January (2)
  • ►  2013 (5)
    • ►  December (2)
    • ►  June (1)
    • ►  May (1)
    • ►  February (1)
  • ►  2012 (12)
    • ►  November (2)
    • ►  October (1)
    • ►  September (2)
    • ►  July (2)
    • ►  May (1)
    • ►  April (1)
    • ►  March (1)
    • ►  February (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2011 (2)
    • ►  December (2)

Lucky Number

Copyright © 2016 Alpha T. - by Dyan Eka. Created by OddThemes